Saturday, March 29, 2014

RENUNGAN: TANGGUNG JAWAB

Berangan-angan ke Puncak Karier
Semua orang atau para pegawai di semua instansi baik di swasta maupun di pemerintahan pasti mempunyai angan-angan kepengin mempunyai jabatan yang bagus, penghasilan lebih, disegani kolega dan sebagainya. Pada saat awal karier di perusahaan dulu disaat kita masih menduduki level pekerja pemula, yang ada dibenak pemikiran saya adalah bagaimana menuntut pada pimpinan atau atasan supaya kita dapat dihargai dan diperhitungkan dalam pekerjaan dan yang pasti mendapatkan penghasilan yang tinggi. Tanpa terpikirkan bahwa sebenarnya saat itu saya sudah patutkah untuk mendapatkan segala hal yang menjadi tuntutan saya. Dan mungkin saya juga tidak ambil pusing akan kesulitan pimpinan dalam rangka mempertimbangkan dan meluluskan apa yang saya minta saat itu.
Ukuran penilaian pimpinan waktu itu adalah bila pimpinan memperhatikan dan menyetujui segala hal permintaan yang saya keluhkan berarti pimpinan aku anggap cakap dan perhatian pada bawahan. Tapi kalau ternyata pimpinan tidak menghiraukan atas permintaan saya waktu itu saya anggap pimpinan tidak baik dan adil, sehingga segala hal bentuk kekecewaan atas segala kebijakan pimpinan merupakan topik pembicaraan yang paling ramai dan hot dengan para karyawan lainnya yang ternyata mereka mempunyai permasalahan yang tidak jauh dari yang aku alami.
Saat ini yang terjadi kebalikan dari yang pernah aku alami pada waktu pencapaian awal karir dulu.
Tuntutan Karyawan
Dulu kita suka menuntut pimpinan dalam rangka perbaikan kesejahteraan, tapi saat ini justru berbalik ke saya yang sekarang dituntut oleh temen-temen di lingkungan kerja yang sekarang menjadi tanggung jawab saya. Efek dari beberapa kepercayaan jabatan dan tanggung jawab yang dipercayakan oleh pimpinan dalam menjaga dan mengendalikan transaksi yang paling sakral (menurut saya) yakni bidang keuangan pusat, memungkinkan banyaknya keluhan, protes, ataupun tuntutan-tuntutan yang menurut saya sudah berlebihan. Padahal menurut aku tentunya, sebagai karyawan yang saat ini mendapatkan mandat dan kepercayaan pimpinan dalam rangka mengelola harta perusahaan yang paling likuid, saya sudah mengupayakan seadil-adilnya. Misalnya, dulu rezky dari perolehan dari divisi lain misalnya pemasaran, pembagiannya hanya untuk pimpinan dan level jabatan menengah yang dianggap mempunyai banyak peran dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bahkan kalau ada tugas luar, yang dulu tiap personel mendapatkan uang saku, Saya sudah tidak pernah lagi menuntut bahkan mengambil uang saku tersebut, walaupun saya bertugas diluar kantor bahkan pakai kendaraan pribadipun. Saat ini kebijakan yang aku terapkan terutama di lingkungan divisi yang menjadi tanggung jawab saya adalah, bila mendapatkan tambahan rezki tersebut kami bagikan secara merata kepada seluruh personel yang ada di lingkungan divisi saya, bahkan sampai level pramubaktipun kita bagikan. Harapan saya adalah, supaya temen-temen lebih semangat dan sama-sama ikut bertanggung jawab atas pekerjaan yang dibebankan perusahaan kepada masing-masing personel.
Cuma akhir-akhir ini saya mulai kecewa pada beberapa temen-temen yang sudah mulai perhitungan dan protes secara sepihak, bahkan seakan-akan saya diadu dengan pimpinan yakni dengan mengajukan suatu kenaikan tanpa koordinasi dan konfirmasi terlebih dahulu. Bahkan yang nekat lagi ada temen yang menaikan tarif transport dan langsung mengambil di kasir tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Saya betul-betul sangat kecewa, kenapa? Karena perjuangan saya dengan
Adilkah Saya..???
memberikan tambahan rezky yang dulunya memang bagian pimpinan dan sekarang dibagikan secara merata, tujuannya adalah supaya temen-temen pada loyal dan lebih semangat. Kalau yang terjadi malah tidak banyak memberikan dorongan kinerja yang bagus, bahkan malah sudah mulai perhitungan sekali, buat apa tambahan rezki tersebut aku bagian kepada karyawan secara merata, lebih baik aku kembalikan aja ke kebijakan yang dulu dengan menyerahkan kepada pimpinan langsung. Tambahan rizky diambil, tapi tuntutan lain dan loyalitas tidak banyak berpengaruh.
Trus Salahkah Saya Masih Melanjutkan Kebijakan Dengan Memberikan Tambahan Rizky yang Dibagikan Secara Merata di Lingkungan Divisi Saya...??? Adilkah Saya.....?????

No comments:

Post a Comment